Mereka berpendapat, layanan data di XL akan makin tumbuh dan memberi keuntungan yang baik. Sebagian mereka yakin XL akan memimpin di area.
Saat ini, ketika ARPU (pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) sebesar Rp 20.000 sebulan, XL masih bertahan dengan Rp 32.000. ARPU rendah akibat sengitnya persaingan dan perang tarif yang tidak berkesudahan, padahal pada 2005, ARPU masih di atas Rp 120.000.
Jumlah operator tumbuh cepat, tahun 2011 kita hanya punya 4 operator: PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama (kemudian berubah menjadi PT XL Axiata), dan Bakrie Telecom (Ratelindo). Pada tahun 2007, jumlah operator menjadi 10 dan tahun 2008 menjadi 11 buah, setelah bertambah dengan berturut-turut Flexi, Mobile 8, StarOne, Ceria, Three (3), Smart dan Axis.
Kata Dirut PT XL Axiata, Hasnul Suhaimi, di Indonesia sudah terjadi kompetisi yang berlebihan dan mulai tahun 2012 ini tidak ada lagi banting-bantingan harga. XL akan menghentikan layanan internet tidak terbatas (unlimited), sebab kenyataannya hanya 3 persen dari jumlah pelanggannya yang 46,4 juta itu memanfaatkan layanan, namun menggunakan 40 persen kapasitas jaringan.
Tumbuhnya kelas menengah
Dari jumlah pelanggan kelompok Axiata yang 196 juta - kedua setelah Bridge (SingTel) dengan 331 juta pelanggan - XL menduduki tempat kedua setelah Idea di India yang punya 105,2 juta pelanggan, sementara Celcom di Malaysia hanya punya 11,6 juta pelanggan.
Axiata beroperasi di sembilan negara yaitu Malaysia, Indonesia, India, Sri Lanka (Dialog), Bangladesh (Robi), Kamboja (Hello), Singapura (M1), Iran (MTCE) dan Thailand (i-mobile), dengan pendapatan pada tahun 2010 sebesar 5 miliar dollar AS, sebanyak 40 persennya disumbang PT XL Axiata.
Dari biaya modal (capex – capital expenditure) yang digelontorkan oleh Axiata selama tahun 2005 hingga 2010 sebesar 3 miliar dollar AS, sebanyak 1,9 miliar dollar AS diberikan kepada XL. Fokus utama, memperbesar kemampuan jaringan pada layanan data. Selama kurun waktu itu, XL membayar pajak kepada Pemerintah RI sebesar 81 juta dollar AS atau sekitar Rp 730 miliar.
Pertumbuhan BTS di XL sangat tinggi, dari 2.400 BTS tahun 2004 menjadi 28.272 BTS tahun 2011, sejumlah 4.909 di antaranya adalah BTS 3G. Pelanggan juga naik dari 40 juta pada akhir 2010 dan diharapkan menjadi 51 juta pada akhir 2012.
Operator itu berkomitmen mengembangkan layanan 3G dan pita lebar LTE (long term evolution), antara lain karena pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang sangat tinggi. Kelas ini butuh layanan data, apalagi pembelanjaan mereka sekitar 20 dolar AS sehari, termasuk untuk komunikasi, selain faktor makin menurunnya harga telepon pintar.
Pendapatan dari layanan data menunjukkan kenaikan, dari 17 persen menjadi 22 persen pada tahun 2011 sehingga di tahun ini XL akan membangun 6.000 BTS, 4.000 di antaranya BTS 3G yang diarahkan ke jaringan Internet protokol (IP) penuh. Dibanding Telkomsel dan Indosat pada triwulan ketiga 2011, pertumbuhan pendapatan XL jauh lebih tinggi, mencapai 8,7 persen dibanding 5,7 persen dan 4,7 persen.
0 comments:
Post a Comment